Cerita di Hari Ketiga
Sep 10th, 2009 | By rey | Category: NotesTadi siang saya masuk ke ruang rokok di kantor. Ada orang itu lagi. Mas-mas yang belum juga saya tahu namanya, meskipun sudah sering berpapasan—kami beda redaksi. Saya tahu ia tidak merokok, tetapi ini adalah kali ketiga dalam tiga hari terakhir ini saya melihatnya duduk di ruang rokok. Sambil membawa bahan kerja. Kemarin saya masuk ruangan itu dan ia sedang menelepon.
Di hari pertama kami saling berdiam diri meski satu ruangan. Hari kedua perjumpaan, kemarin, ia sedang bertelepon ketika saya masuk. Kemudian ia cerita ada famili perantau dari Yogya yang baru mendapatkan pekerjaan di Jakarta dan kostnya terlalu jauh dari tempat kerja. Ia mau menyarankan familinya itu untuk pindah kost dan mau membantunya.
Itu kemarin. Hari ini, hari ketiga perjumpaan, saya bilang, ”Wah ketemu lagi nih Mas.” Inilah awal yang sesungguhnya.
Ia lantas bercerita bahwa ia belum lama kehilangan anaknya. Umur 1,5 tahun. Perempuan. Sakit flu ketularan kakaknya tapi kemudian ternyata parah. Sudah diperiksa dokter tapi entah bagaimana kemudian makin parah dan akhirnya meninggal beberapa hari setelahnya.
Saya ingat ia mengatakan bahwa anak itu sedang dekat-dekatnya dengannya. Bahwa kalau ada pilihan, rasanya ia pun ingin ikut mati saja. Bersama anaknya itu.
Oh my… Ketika dia mengatakan itu saya refleks menggeleng-gelengkan kepala. Dan kemudian saya lebih banyak diam mendengar. Ini bukan lagi obrolan berbasa-basi karena terjebak berada dalam satu ruangan.
Mas itu cerita sekarang ia sulit berkonsentrasi dalam pekerjaan. Ia jurnalis. ”Sekarang saya musti bikin outline, corat-coret seperti ini, sebelum menulis,” katanya. Di tangannya ada kertas warna cokelat yang dicoret-coret. ”Padahal biasanya langsung saja mengalir.”
Ia mengatakan sudah tanya sana-sini dan ngobrol dengan orang-orang lain. Ia diberi tahu, biasanya rasa kehilangan, perasaan bersalah, dan semua hal itu mungkin mulai normal lagi setelah dua tahun.
Ia lalu berbelok, bertanya tentang saya. Seperti ditodong, saya akhirnya juga bercerita tentang apa yang bisa diceritakan. Ia bilang, ”Sampeyan sering saya lihat dan kesannya pendiam.” Barulah kami bisa sama-sama nyengir lagi.
Dia bertanya agama saya apa. Kristen. ”Oh kalau saya Katolik.”
Ia mengatakan sesuatu dari Injil, yang saya kenal tapi tidak ingat detailnya. Tentang bahwa Yesus menerima anak-anak dengan tangan terbuka dan mengatakan, ”merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”
Anak-anak kecil itu belum punya dosa, kata si Mas ini. ”Saya tidak heran soal itu”, dia bilang. Bahwa Yesus membuka tangan lebar-lebar untuk anak-anak. Ada kalimatnya yang mengatakan mungkin surga sana lebih banyak diisi oleh anak-anak.
”Kalau mengikuti pikiran, saya bertanya-tanya,” lanjutnya. ”Apakah anak saya itu baik-baik saja di sana. Dia baru umur segitu, semuanya tergantung dari orang tuanya.”
Yang bisa saya katakan adalah, ”Ya, Mas. Dia pasti baik-baik di sana. Mungkin jauh lebih baik daripada yang bisa kita lakukan di sini.”
Saya pamit, mau kerja lagi, saya bilang, sambil menjejalkan puntung rokok ke asbak. Sekarang saya sedikit merasa bahwa seharusnya saya bisa lebih baik tadi siang. Karena saya merasa paham.
Anak-anak di Lobusingkam, Tapanuli Tengah, Desember 2006.
