Sunday, September 5, 2010

Every Word was a Piece of My Heart

Sep 8th, 2009 | By rey | Category: Notes

There’s no love, there’s no hate. I left them there for you to take. But know that every word was a piece of my heart. Have I said too much? Maybe I haven’t say enough? But know that every word was a piece of my heart (hey now).

Itu lirik sebuah lagu Bon Jovi tentang cinta kepada perempuan, sepertinya. Setiap kali mendengar lagu ini, sedih rasanya. Buat saya, sudah pasti terutama itu terkait dengan hal-hal pada sembilan sampai tujuh tahun lalu, sekitar setahun sebelum dan sesudah Steven Aprilianus Sumayku berpulang.

Steven adik kandung saya, berselisih sekitar dua tahun umurnya. Pada waktu lagu itu sering saya putar di komputer di kantor tabloid Soccer dulu, ia sedang sakit, dan kemudian sudah meninggal dunia. Sekitar setahun ia bolak-balik masuk rumah sakit, atau rawat jalan, kemudian berbaring pasrah di rumah, dengan hanya saya dan seorang sepupu yang bergantian ada buatnya.

Ia orang baik. Lebih baik daripada saya, dengan kepribadiannya yang menggembirakan orang-orang. Temannya ada di mana-mana, di Tanjung Priok dulu di mana kami dibesarkan. Ia memainkan gitarnya dengan keterampilan dan perasaan yang membuat saya bangga, diam-diam. Banyak orang bergantian datang ke rumah untuk belajar gitar kepadanya.

Bagaimanapun, ia tidak mendapatkan kesempatan sebaik apa yang saya dapatkan. Ia tidak beruntung. Atau ia kurang berusaha dengan keras di bidang yang ia tekuni, begitu saya berulang kali bilang kepadanya. Dan kami sering sekali bertengkar. Bahkan pernah berkelahi.

Kami menjalani saat-saat yang sulit itu bersama-sama. Setidaknya dengan kesadaran masing-masing yang tidak diungkapkan, bahwa kami berdua. Tidak sendirian.

Selama beberapa tahun, kami pernah tinggal hanya berdua di rumah, di Bekasi. Di saat-saat saya belum bekerja tetap dulu, yang bisa saya lakukan hanyalah maksimal sepuluh ribu rupiah agar dia bisa patungan menyewa studio untuk latihan. Atau sekadar ongkos ketika dia manggung (saya masih bisa memainkan 1-2 lagu yang ia ciptakan dengan gitar, meski tidak lagi ingat liriknya). Pernah membantunya membuat lirik tapi sekarang saya sadar itu parah. Dan yang tidak pernah ingin saya lupakan adalah malam-malam di mana saya pulang kerja dan ketika berpapasan, ia bilang, ”Makan No. Ada lauk tuh.” Hanya beberapa ribu rupiah saya tinggalkan di pagi harinya. Dan malamnya ada makanan di rumah buat saya. Saya tahu ia begitu kesepian juga.

Terlalu banyak hal yang saya ingat tentang dia. Kebanyakan adalah hal-hal yang jika diingat sekarang pun, delapan tahun setelah ia pergi, saya masih bisa menangis. Tidak pernah rela rasanya, karena tidak begitu banyak yang dulu bisa saya lakukan untuk membantunya tetap hidup dan meraih cita-citanya. Dua puluh lima tahun umurnya ketika ia pergi. Dua puluh lima tahun juga, atau dikurangi 3-4 tahun masa kecil yang tidak bisa diingat lagi sekarang, waktu yang saya habiskan dengan membawa kesadaran bahwa kami berdua. Reynold dan Steven.

Boncengan sepeda atau bersama-sama naik becak langganan pergi-pulang semasa SD. Main pedang-pedangan plastik atau bikin sendiri dari kayu. Bikin lagu buat Jumbo, anjing kita dulu waktu kecil, dan menyanyikannya bersama. Saling ganti minta rokok ketika lu sudah mulai sekolah di STM. Terlunta-lunta bareng di Senen karena duitnya nggak cukup waktu mau nonton Metallica di Lebak Bulus. Bicara soal Metallica, Sepultura, Extreme, Roxx, Sheila on7, dll, dll soal musik itu. Bahkan lu pernah mengigau tentang Mapala UI waktu sakit, padahal gua cuma pernah sesekali cerita. Tentang mami, papi kita. Tentang Igel. Dan Jeffry.

Pagi menjelang siang itu, Maret 2001, saya merasa bahwa mungkin ia tidak lama lagi. Sebulan lebih ia terbaring di tempat tidur dan tidak lagi sadar. Tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. Tetapi saya harus pergi bekerja, dan saya pergi.

Begitu sampai di kantor, saya tarik kursi kerja, duduk, menekan tombol untuk menyalakan komputer, dan mulai bersiap bekerja. Saat itulah telepon berdering, saya angkat, dan di ujung sana salah seorang sepupu saya yang rumahnya dekat rumah kami mengatakan, ”Reyn, bisa pulang sekarang?” Saya menjawab singkat, ”Iya, Kak Ade.”

Keluar kantor, menunggu taksi, kemudian naik, saya sudah merasakan air mata yang panas dan deras. Sepanjang perjalanan saya memikirkan hal-hal tentang dia. Saya bergumam, ”Jadi cuma segitu aja ya Peng?”

Di jalan sebelum masuk rumah, Om Ocki—mantan petinju profesional juara nasional, tetangga kami—berdiri di depan saya sambil mengatakan, ”Gak apa-apa ya, Epen sudah nggak ada.”

Beberapa bulan sebelumnya, di rumah sakit, ketika suatu malam saya masuk ke ruangannya sehabis pulang kerja, ia tersenyum. Saya duduk di tepi ranjangnya sambil mengatakan hal-hal biasa, ”Lu udah makan? Sembuh ya,” dan setelahnya ia yang sudah lemah itu mengangkat tangan kirinya dan menaruhnya di dagu saya sambil mengatakan, ”Gua sayang lu, No.”

Pertama dan terakhir kalinya dia mengatakan hal seperti itu kepada saya, sepanjang 25 tahun itu. Tapi itu lebih, sangat lebih dari cukup. Ya, gua juga sayang lu. Sembuh yaa.. Masih tersenyum, ia mengangguk.

Ia tidak sembuh. Tetapi ia selalu bersama saya, seperti cincin warna perak yang murahan itu, cincin miliknya yang berusaha saya kenakan untuk membawanya ke mana pun saya pergi. Kita cukup banyak bicara berdua di saat-saat itu, Peng. Dan gua yang terlalu banyak bicara, pastinya. Tapi gua ingat hal-hal yang lu katakan. Gw ingat.

Dan mendengarkan lagu itu, meskipun itu lagu yang nggak pernah kita bahas (apa lu sempat mendengarnya?), selalu mengingatkan gua kepada lu. Apa yang pernah lu bilang, itu gua ingat. Gw pernah bercerita tentang lu kepada Naomi. Dan akan kepada yang nanti-nanti, yang harus tahu.

DSC06454

oldie_0021

Share This Post

4 comments
Leave a comment »

  1. Hidup berjalan terus ya Nyok. Seperti kata Robert Frost:

    The woods are lovely, dark and deep
    But I have promises to keep
    And miles to go before I sleep
    And miles to go before I sleep

  2. Tengkyu, Nas..

  3. There’s a place
    I’ve never seen
    beyond this world we know,
    A place I’ve only heard of

    It’s not on any map,
    there are no roads to take there,
    But it’s a place of perfect peace
    One day, we all will meet again -

    well now i know the stories, hes always around you just not at the same place…hes in the better place

  4. thanks Onya

Leave Comment