Diskusi Memotret Keseharian
Apr 23rd, 2009 | By rey | Category: NotesSenin dan Selasa lalu (20-21 April), berturut-turut bicara tentang fotografi dengan audiens sebagian besar mahasiswa. Yang pertama di Fisip UI Depok sebagai salah satu acara dalam Social Urban Art Festival 2009 yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa Sosiologi. Di situ saya menemani pemimpin redaksi NG Indonesia, Tantyo Bangun. Yang kedua adalah bincang santai bersama para mahasiswa Universitas Islam Nasional Syarif Hidayatullah di Ciputat (Kalacitra, klub fotografi kampus itu, sedang melakukan pendidikan calon anggota baru. Penugasan kali ini temanya adalah “Pesisir Jakarta” jadi saya diminta berbagai pengalaman, dan senang melakukannya).
Tantyo Bangun sedang memberikan presentasi.
Akan tetapi yang terngiang-ngiang di kepala adalah sebuah diskusi di Fisip UI.
Dalam acara tersebut, Tantyo Bangun mempresentasikan bagaimana sebuah cerita dapat diterbitkan di majalah National Geographic. Mulai dari ide, perencanaan, proposal, hingga final edit. Contoh-contoh cerita yang ditampilkan antara lain Kemarau Panjang di Australia (Foto oleh Amy Toensing), Saudagar Baduy (Ahmad Zamroni), Becak (Dwi Oblo), dan Pencak Silat (Edy Purnomo). Kemudian di bagian kedua, saya mempresentasikan foto-foto Pesisir Jakarta sebagai contoh kasus.
Satu yang melekat di ingatan adalah pertanyaan dari salah seorang hadirin: ”Tadi saya lihat ada beberapa foto yang diset. Pertanyaannya: sejauh mana kita dapat melakukan setting pada foto jurnalistik?”
Saya menjawab bahwa setting yang saya lakukan hanyalah pencahayaan, sebagai contoh pada foto ini:
Ketika itu saya permisi untuk berbincang-bincang dengan satu keluarga yang tinggal di bibir laut di daerah Kamal Muara. Keluarga ini tengah menunggu kepala keluarganya pulang bekerja mengantarkan kiriman ikan hasil tangkapan nelayan. Hal yang lebih besar: mereka sedang menunggu rumahnya digusur seiring rencana reklamasi pesisir Jakarta.
Foto itu dibuat setelah saya minta izin kepada ibu rumah tangganya untuk meletakkan flash di ruang tamu. Kemudian sambil mengobrol di beranda, saya membayangkan komposisi fotonya. Satu hal yang pasti, saya ingin memasukkan jam dinding ke dalam frame, karena idenya adalah keluarga ini sedang ”menanti”. Menanti kepala keluarganya pulang, dan menanti saatnya mereka harus merelakan rumahnya digusur.
Si Mbak yang duduk di depan saya adalah adik dari si kepala keluarga. Ia tampak agak mengantuk sore itu ketika mengobrol dengan saya. Sementara si ibu sambil sesekali ikut mengobrol juga mondar-mandir keluar-masuk rumah untuk mengurus anak dan memberikan instruksi ini-itu kepada salah seorang famili lainnya yang berada di dalam rumah.
Sesekali membidik melalui view finder, saya menekan tombol shutter beberapa kali pula sambil mohon maaf jika lampu flash mengganggu mereka. Lalu mengobrol lagi, intip-intip di view finder lagi. Dari beberapa foto, saya paling menyukai foto ini, ketika si ibu berbicara kepada famili di dalam rumah sambil menggendong anak.
Menurut Tantyo, setting pencahayaan tidak masalah, selama bukan setting pose atau adegan. Si penanya agaknya mengerti penjelasan tersebut.
Namun, dalam perjalanan pulang seusai acara, saya ingat bahwa seharusnya ada jawaban tambahan yang saya berikan. Saya agak menyesal karena sebenarnya ini juga penting untuk diketahui. Foto-foto kehidupan manusia di NG biasanya diambil setelah si fotografernya membaur dan berinteraksi dalam kehidupan subyek fotonya selama beberapa waktu. Semakin lama semakin baik.
Dengan berada dekat dalam keseharian mereka, foto-foto keseharian, kehidupan atau adegan akan menunggu waktu saja untuk didapat, tanpa mengganggu atau membuat subyek fotonya merasa tereksploitasi. Jadi bukan dengan cara datang-datang tanya-tanya lalu langsung memotret, atau malah menyuruh-nyuruh orang untuk melakukan pose atau adegan tertentu. Saya pernah beberapa kali melihat kejadian seperti itu tetapi tidak ingin yang seperti itu.
Dalam kesimpulan saya sendiri selama ini, hal-hal demikianlah yang menyebabkan peliputan para fotografer NG tidak bisa dilakukan dalam waktu sebentar. Itu pula kenapa dari sekian ribu frame hanya beberapa belas yang terpakai dalam sebuah cerita.


TOP! akur. jangan sampai berkesan mengeksploitasi.
Nyok, cerita kayak gini ditulis di FK.net dong. Gw salin aja ya, ntar gw kasih link ke sini, gimana brur?
Oke deh..
Mas, komentar dikit ya.. Bukan komentar ding, lebih tepat berbagi cerita. Boleh kan mas.. Hehehe..
Secara umum, saya sependapat sama mas Tantyo dan mas Reynold. Saya juga tidak terlalu sreg dengan yang dibuat-buat. Akan tetapi, batasan mana yang boleh direkayasa dan mana yang tidak memang belum jelas. Saya ingat cerita dari Michael Yamashita, di dalam salah satu fotonya ketika menelusuri ulang perjalanan Laksamana Cheng Ho.
Foto itu bermaksud menggambarkan bahwa raja waktu itu begitu tergila-gila membangun monumen megah, hingga memotong bukit untuk dijadikan patung. Secara visual, Mike memfoto potongan bukit itu. Untuk menunjukkan betapa besarnya potongan bukit itu, Mike membutuhkan unsur pembanding, sementara bukit itu kosong. Mike pun mengatur supaya ada seseorang berdiri di atas bukit itu.
Di satu sisi, itu rekayasa. Di sisi lain, rekayasa ini tidak mengubah fakta bukit yang dipotong maupun ukuran potongan bukit. Subjek ceritanya adalah bukit, bukan orang tambahan itu. Maka, Mike menyimpulkan sendiri, rekayasa ini tidak menjadi masalah. Untuk kasus lain, barangkali keputusannya bisa berbeda.
Gitu aja mas. Terima kasih..
Budi N.D. Dharmawan
tentang komentar budi, memang budi benar. saya rasa tidak apa-apa melakukan setting dalam pemotretan yang seperti itu. tetapi kalau untuk setting adegan dalam foto jurnalistik, sebaiknya dan sebisanya memang dihindari ya bud?
Yang dilakukan Mike Yamashita juga sebetulnya termasuk fotojurnalisme, di dalam pengertiannya yang luas. Akan tetapi, orang sering menganggap fotojurnalisme adalah foto peristiwa yang sifatnya spot news saja. Anggaplah ini pengertian yang sempit.
Dan saya sepakat dengan mas Reynold. Utk hal-hal yang sifatnya spot news, seperti kecelakaan, perang, atau bencana, setting tidak diperkenankan, karena nilai beritanya ada di peristiwa itu.
Iya Budi benar. Cuma, cerita di atas itu konteks yang ditanyakan sepertinya adalah rekayasa yang mengarah ke rekayasa adegan.. Thanks ya Bud.