Bekantan dari Sungai Hitam
Jan 1st, 2008 | By rey | Category: Press
Sebuah permukiman kecil terletak terletak di tengah-tengah hutan belantara. Jika dibayangkan dari sudut pandang seekor bekantan, kalimat itu akan berbunyi sepenggal hutan mungil di tengah peradaban manusia. Itulah yang dihadapi bekantan-bekantan liar Sungai Hitam di Kalimantan Timur.
Dari mata turun ke hati. Begitu kata orang menggambarkan cinta pada pandangan pertama. Cinta saya kepada bekantan juga lantaran pandangan pertama meskipun tidak indah.
Alkisah, pada suatu hari yang terik di tahun 2002 saya berniat membawa keluarga berpelesir ke pantai. Dalam perjalanan menuju pantai, di sebuah jembatan kecil di Kampung Kuala Samboja, sekitar 40 kilometer dari Balikpapan, kami dihentikan oleh kerumunan orang. Salah satu dari mereka terlihat mengatur lalu lintas. “Kecelakaan?” saya bertanya. Salah seorang menjawab, “Ada bekantan tertabrak mobil!”
Dari atas sepeda motor saya melihat seekor bekantan terkapar tak bergerak. Bagian mulut dan anusnya masih mengeluarkan darah segar, menetes membasahi rambutnya yang segera saja berubah warna menjadi memerah darah. “Bekantannya menyeberang dari sana, Pak,” tambah orang itu tanpa saya minta. Tangannya menunjuk sekelompok bekantan yang berada di atas sebuah pohon tak jauh dari tempat itu.
Terlihat sekitar 6-8 ekor bekantan di atas pohon. Kelompok itu tengah diam termangu, menyaksikan salah satu anggota keluarganya tak bergerak, bersimbah darah di atas aspal. Angin laut bertiup perlahan menggoyang dedaunan tempat monyet-monyet itu duduk. Tidak ada suara lenguhan atau jeritan. Semuanya terdiam membisu.
Sebagai seorang dokter hewan yang bekerja pada sebuah institusi penelitian konservasi, kejadian tersebut sungguh mengaduk isi hati saya. Kemudian saya menelepon seorang kawan untuk membantu membawa satwa yang malang tersebut ke klinik kantor untuk diotopsi. Acara ke pantai tertunda.
Setelah kejadian tersebut, rasa heran mulai merayapi kepala saya. Bagaimana bisa satwa tersebut berada di jalan raya dan di antara permukiman yang cukup ramai?
Bagaimana tidak ramai jika penduduk Desa Kuala Samboja lebih dari 6.000-an orang? Desa itu juga dilewati sebuah jalan raya yang mulus dan dilintasi berbagai jenis kendaraan—termasuk truk-truk besar pengangkut batu bara—yang hendak menuju Balikpapan atau Samarinda.
Setahu saya lagi, bekantan (Nasalis larvatus), satwa yang dilindungi ini sangat pemalu. Profesor M. Bismark, seorang peneliti ahli di bidang konservasi dari Litbang Departemen Kehutanan, pernah menyebutkan bahwa perilaku yang pemalu dari bekantan menyebabkan pengamatan terhadap satwa ini menjadi sulit.
Saya juga mengetahui populasi satwa endemik Kalimantan ini terancam. Pada National Geographic edisi Agustus 2002 disebutkan, di seluruh Kalimantan, tidak sampai 8.000 bekantan tersisa di habitatnya yang berupa rawa, hutan mangrove, dan tepian sungai dekat muara. Diperkirakan, saat ini tak sampai 7.000 ekor bekantan tersisa di alam, di habitatnya yang kesemuanya telah atau sedang terdesak, atau dirusak, oleh aktivitas manusia.
Oleh CITES atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam, bekantan dimasukkan ke dalam Apendiks I. Sedangkan dalam daftar merah yang dikeluarkan oleh IUCN, persatuan internasional untuk konservasi sumber daya alam, bekantan digolongkan ke dalam spesies yang terancam.
Begitulah. Berawal dari pandangan pertama yang berdarah-darah, kemudian ditambah pengetahuan mengenai keterancaman populasi dan habitat bekantan, saya memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak mengenai kehidupan satwa ini. Lebih dari itu, saya telah jatuh cinta.
*******
Hari masih basah oleh sisa embun yang terlambat menetes. Ufuk timur jingga keemasan berbalut selendang kelabu awan yang diam tak berarak. Pagi itu ditemani Triatmoko, seorang karib yang juga peneliti satwa liar, saya berencana menyusuri Sungai Hitam.
Sungai Hitam sebenarnya hanyalah salah satu bagian dari aliran yang mengalir ke Sungai Kuala Samboja. Air Sungai Hitam yang berasal dari areal persawahan di hulunya memang tidak sepenuhnya hitam. Namun, masyarakat lebih senang menyebut Sungai Kuala Samboja sebagai Sungai Hitam. Selain lebih mudah diingat juga mempunyai kesan tersendiri di telinga.
Idris, sesepuh setempat yang masih sangat kuat tubuhnya, telah menyiapkan sebuah perahu dayung kecil. ”Bekantan masih banyak di sini,” katanya. ”Bahkan primata-primata itu telah berada di daerah aliran sungai ini sebelum banyak orang datang untuk menetap.”
Kami perlahan mendayung ke arah hulu. Seekor burung raja udang melesat di atas kepala. Sinar mentari menerobos sela-sela daun rambai (Sonneratia caseolaris) yang jumlahnya tidak banyak. Di antara kelebat kecipak dayung dan sisa gelombang di belakang perahu, terdengar suara burung-burung riuh membangunkan pagi yang masih malas untuk bangun.
“Biasanya bekantan ada di dekat-dekat sini,” bisik Idris kala kami tiba di sebuah kelokan sungai. Ia menempelkan telunjuknya di bibir, menandakan kami tak boleh bersuara. ”Nah, ini sudah tercium aroma air kencingnya.”
Benar saja. Tak jauh dari tempat kami terlihat sekelompok bekantan sedang makan daun rambai. Pemimpinnya seekor jantan berhidung besar, tengah asyik meraih pucuk-pucuk daun sambil duduk di antara cabang pohon yang tak begitu besar. Dua ekor betina dengan warna merah bata kombinasi dengan abu-abu keputihan sedang menggendong anak yang warna rambutnya cenderung gelap. Keduanya tampak tenang makan pucuk daun, berada di dekat sang pemimpin. Sementara itu, tiga ekor bekantan remaja yang masih didominasi warna abu-abu juga tengah asyik menyantap pucuk daun di ketinggian pohon rambai. Daun rambai makanan utama bekantan di sini. Kemampuan primata ini mengonsumsi daun yang mengandung selulosa berkaitan dengan modifikasi perutnya yang seperti hewan memamah biak—memiliki beberapa kantong—serta mengandung bakteri yang dapat memfermentasi daun rambai.
Selama hari-hari dan bulan-bulan pengamatan yang dilakukan kemudian, saya mengetahui bahwa bekantan mulai beraktivitas setelah cahaya matahari cukup terang untuk menyinari daun rambai—kira-kira pukul 05.30-06.00. Kemudian satwa-satwa ini berhenti beraktivitas setelah matahari mulai terbenam atau sekitar pukul 17.30-18.00.
Perilaku menghindar dan bersembunyi merupakan salah satu ciri khas yang umum dari satwa ini manakala bertemu dengan manusia—bahkan dari jarak 50-100 meter sekalipun. Teriakan-teriakan dari betina dewasa atau remaja, jeritan anak-anak dan lenguhan dari jantan dewasa pemimpinnya, merupakan tanda peringatan agar seluruh anggota kelompok tersebut waspada dan segera menghindar.
Jika semak di bawah pohon yang didominasi oleh tumbuhan juruju (Acanthus sp.) yang bergerigi kurang ideal untuk bersembunyi, para bekantan akan melompat ke sungai dan berenang. Hal ini tidak terkecuali bagi bekantan betina yang sedang membawa anak.
*******
Di Sungai Hitam terdapat 10-12 kelompok bekantan dengan total populasi 140-an ekor. Empat kelompok berada di daerah dekat muara dan hulu. Setiap kelompok memiliki daerah jelajah guna memudahkan dalam mencari makanan.
Monyet-monyet itu bertahan di habitat yang panjangnya hanya sekitar 2,5 kilometer dan lebar rata-rata 10 meter! Bahkan ada yang lebar habitatnya kurang dari itu. Melangkah satu sentimeter saja dari lebar habitat itu, bekantan akan langsung berhadapan dengan padang ilalang atau rumput tempat kerbau dan sapi penduduk merumput, ladang, rumah penduduk, tambak, atau jalan raya.
Struktur sosial para bekantan relatif menjadi misteri sampai studi lapangan yang dilakukan oleh Elizabeth Bennett dan Carey Yeager pada dua dekade silam. Kedua ahli tersebut menemukan bahwa bekantan sangat terorganisir. Berkat pengamatan-pengamatan, perlahan-lahan saya pun dapat membaca pola kehidupan dan perilaku primata ini.
Dalam satu kelompok bekantan terdapat satu ekor jantan dewasa yang menjadi pemimpin, beberapa ekor betina dewasa, dan beberapa anakan—totalnya 8-10 individu. Jantan-jantan berusia muda yang terpisah atau memisahkan diri dari kelompoknya, akan bergabung membentuk kelompok kecil yang terdiri dari sesama jantan muda—sampai tiba saatnya masing-masing membentuk kelompok sendiri.
Saya perhatikan, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain saling menjaga jarak. Tidak saling mendekat walaupun pohon rambai yang dimakani pucuk-pucuk daunnya tidaklah sama setiap hari. Setiap kelompok berpindah-pindah sepanjang daerah aliran sungai di mana pohon rambai tumbuh. Karena posisinya bergeser terus, terkadang suatu kelompok tak sengaja mendekati ”wilayah” yang sedang dihuni kelompok lain. Apabila kebetulan saling berdekatan, semua biasanya akan ribut, berteriak-teriak kemudian menjauh kembali bersama kelompok masing-masing.
Pada daerah aliran sungai yang dekat dengan jalan raya, saya temukan dua kelompok bekantan yang cukup mampu beradaptasi dengan kehadiran manusia. Kendatipun demikian, dibutuhkan adaptasi yang cukup lama bagi pengamat untuk dapat diterima oleh kelompok bekantan tersebut.
Kata ”diterima” di sini bukan berarti pengamat akan dapat leluasa berada dekat dengan kelompok bekantan—satwa-satwa itu hanya berkurang sedikit kepekaan dan reaksinya terhadap kehadiran manusia. Pengamat tidak boleh melakukan gerakan tiba-tiba yang dapat menimbulkan kecurigaan atau kekagetan.
Saya menyebut kedua kelompok ini sebagai ”kelompok bersahabat”. Soalnya, kedua kelompok ini bisa menerima kehadiran manusia bahkan dari jarak 5-10 meter saja. Meskipun waspada, kedua kelompok ini biasanya tetap melakukan melakukan aktivitas harian seperti makan, berkutu, istirahat, dan bahkan—sesekali terlihat—aktivitas seksual. Hiruk-pikuk jalanan oleh deru kendaraan bermotor yang melintas hanya sekitar 25 meter dari tepi sungai, jeritan ketam dan kelebat gergaji pembuat kapal, kecipak dayung para pencari ikan dan pencari nipah, kadang-kadang tidak dihiraukan. Begitu pula irama dangdut dari rumah warga di tepi sungai. Saya sempat berpikir, jangan-jangan ada juga bekantan yang ikut bergoyang sedikit-sedikit?
Pada awal-awal penelitian sebelum berhasil mengenali dua kelompok bersahabat itu, hampir saya frustrasi. Bagaimana tidak! Perahu telah didayung dengan sangat perlahan. Bicara pun dilakukan dengan berbisik-bisik. Namun, begitu mengetahui sedikit saja kehadiran kami, kelompok bekantan yang akan diamati langsung pergi bersembunyi di kerimbunan semak yang tumbuh di bawah.
Di tengah keputusasaan, saat saya berteduh di sebuah kelokan sungai di bawah naungan sebuah pohon beringin (Ficus sp.) yang cukup besar, secara tak sengaja saya melihat seorang bapak tua sedang memancing udang galah. Tak jauh dari tempatnya, sekelompok bekantan asyik melakukan aktivitas makan tanpa terganggu sedikitpun. Hanya saja, sang pemimpin, seekor jantan dewasa yang berhidung besar, kadang-kadang memperhatikan aktivitas si pemancing dengan seksama.
Klik! Saya mendapat akal: kami juga harus pura-pura memancing. Sebatang ranting dan seutas tali yang digantungi sekepal batu ternyata merupakan metode yang lumayan berhasil. Kelompok bekantan tersebut akhirnya tidak terlalu curiga dengan kehadiran kami. Pengamatan dapat berjalan dengan baik karena kelompok ini tetap beraktivitas seperti biasa.
Arah cahaya matahari ternyata juga memengaruhi tingkat kecurigaan bekantan. Posisi matahari yang berada di belakang saya membuat pandangan bekantan menjadi silau sehingga tidak begitu jelas melihat keberadaan atau aktivitas saya. Pernah suatu saat, karena harus mencari posisi yang cukup baik dan agar bekantan tidak terhalang dedaunan, saya lewat di bawah salah satu kelompok yang masih tidur. Tiba-tiba, currr… plok ….plok! Serentak bau pesing dan bau kotoran bekantan menempel di tubuh saya. Untungnya, bau itu justru membuat saya bisa berada lebih dekat dengan kelompok tersebut.
*******
Bukan tanpa alasan mengapa di Sungai Hitam terdapat kelompok-kelompok bekantan yang lebih adaptif terhadap kehadiran manusia. Daerah muara Sungai Hitam yang berada di Pantai Tanjung Harapan telah penuh oleh perkampungan nelayan. Selain itu, dibuatnya daerah tepian sungai menjadi areal pertambakan oleh masyarakat sekitar mengakibatkan ketersediaan pohon rambai yang merupakan makanan utama bekantan semakin berkurang.
Ada dua alternatif yang kemudian bisa dipilih oleh tiap-tiap kelompok bekantan di Sungai Hitam. Pertama, tetap menjauhkan diri dari aktivitas manusia dengan risiko ketersediaan rambai yang sedikit dan harus memakan jenis pakan lain. Kedua, menerima kehadiran manusia di sekitarnya dengan ketersediaan pakan yang cukup. Nah, kelompok-kelompok yang bersahabat tersebut kelihatannya memilih untuk beradaptasi dengan berbagai kegiatan manusia di sekitarnya. Kelompok hulu dan hilir memilih alternatif pertama—menjauh dari manusia dan menyingkir dalam kesempatan pertama.
Menurut Ketua RT setempat, Gustiana Widjaya (37 tahun), Idris selaku sesepuh kampung, dan sebagian warga yang ditemui, keberadaan bekantan tidak diganggu. Sama seperti bekantan juga tidak mengganggu tanaman pertanian penduduk. Hanya saja, pada pertengahan tahun 1960-an pernah ada sekelompok orang yang menembaki bekantan dan membawanya pergi. Entah dipergunakan untuk apa, masyarakat tidak mengetahui secara pasti. Ada yang bercerita untuk dimakan dagingnya, dipelihara anaknya, atau diambil kulitnya. Selain itu ada juga yang menebang rambai untuk dijual meskipun tergolong jenis kayu yang lemah.
Sayangnya, sebagai makanan utama bekantan, rambai di Sungai Hitam menghadapi ancaman. Potensi regenerasi pohon pakan utama ini menunjukkan permudaan yang tidak normal. Anakan pohon rambai tidak dapat tumbuh karena tertutup vegetasi lantai yang sangat rapat yang didominasi oleh tanaman herba. Pohon nipah juga terdapat sangat banyak di daerah tepi sungai yang semakin menutup kemungkinan jenis pohon rambai dapat beregenerasi.
Sedih saya melihat kenyataan tersebut. Di satu sisi bekantan dapat bereproduksi dengan baik namun pohon pakan utamanya justru bernasib sebaliknya. Ada pula potensi ancaman lain bagi habitat ini: rencana pembangunan jalan lingkar yang mengitari wilayah Sungai Hitam sebagai akses untuk perumahan yang juga akan dibangun di dekat wilayah tersebut.
Bagaimanapun, larut dalam kesedihan tanpa berbuat sesuatu bukanlah jalan keluar. Sesuatu target, jika dikerjakan secara bersama-sama, semua pihak, akan lebih mudah dicapai untuk menyelamatkan bekantan dan habitatnya di Sungai Hitam.
Burung raja udang melesat rendah. Di atas langit, burung elang berputar-putar mengincar sasaran. Ikan bulan-bulan berkecipak di atas permukaan air mengejar ikan kecil. Angin laut bertiup semilir menarikan pucuk nipah. Suasana yang indah, menenteramkan hati. Saya berharap bekantan juga terus berada dalam keindahan alami itu, bersama alamnya, bertetangga dengan manusia. Laksana sebuah untaian simfoni harmoni yang tiada henti.
Teks oleh Amir Ma’ruf
Foto oleh Reynold Sumayku [lihat versi Photostory][National Geographic Indonesia edisi Januari 2008]

Uhuy, keren…
Uhuy juga…
Saya suka Gambarnya Mantep banget
Jahuhari: Trims trims
mooie foto zeg!..
he2 nyasar juga nih ke blognya oom reynold.. pa kabar bro?..
Baik, Kep! Ke mana aja, lama nggak kedengeran??
KoQ mKa bkantanx gag trllu k’LhataN ??
Yo kita rame – rame melestarikan bekantan agar tidak punah dgn jln melestarikan rambai
Senangnya ya bila semua pihak ikut melestarikan rambai,sb rambai termasuk dalam SDA yang dapat diperbeharui jadi bisa dong dilestarikan
Halo fauziah, trims komentarnya. Selain rambai, habitat bekantan juga musti dilindungi kan ya..
tidak hanya fauna (bekantan) aktifitas manusia yang sudah mulai tak terkendali jg mengancam spesies flora tertentu salah satunya dari famili anggrek yang tersebar di hutan kalimantan…