Sunday, September 5, 2010

Garuda Jawa Raja di Angkasa

Jun 5th, 2006 | By rey | Category: Press

Garuda mengepakkan sayap kekarnya di atas langit Jawa. Sorot matanya menatap tajam ke bawah, bak menembus kelebatan hutan. Ia beberapa kali terbang berkeliling dengan mengeluarkan pekikan khas. Usai berpatroli, burung mitologi Indonesia sejak abad ke-10 Masehi ini bertengger di dahan pohon, rehat sejenak seraya memeriksa keadaan rimba.

Teks oleh Bayu Dwi Mardana Kusuma

Dalam dunia nyata, elang jawa kerap diidentikkan dengan sang garuda, lambang Indonesia sejak merdeka tahun 1945. Burung ini dianggap paling memiliki kedekatan kejiwaan dan kultural yang erat dengan Bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Itu sebabnya, pada 1993, pemerintah Indonesia menetapkan elang Jawa sebagai lambang burung nasional.

Keperkasaan garuda nampaknya menular pada elang Jawa. Walau tubuh tergolong kecil dalam keluarga elang, panjang elang Jawa dewasa mencapai 70 sentimeter dan berat sekitar empat kilogram, namun ia mampu menguasai angkasa untuk memburu calon mangsa.

Dengan kepakan sayap kekar, elang Jawa menukik lebih cepat sebelum mangsa mengelak. Di balik kelebatan hutan Cagar Alam Telaga Warna, Jawa Barat, seekor induk jantan berhasil menyambar bunglon yang tengah menyamarkan diri di antara pepohonan. Makanan ini akan menjadi sarapan sang betina yang tengah menunggui anak mereka di sarang yang terletak pada percabangan kedua dari cabang utama pohon Pasang (Quercuss sp.).

Burung yang memiliki ciri khas jambul dengan dua sampai empat bulu berwarna coklat kehitaman ini memangsa berbagai burung, mamalia dan reptil. Buruan yang berbadan besar, seperti bajing, tupai atau tikus, dibawanya dengan kedua kaki. Sebelum dimasukkan ke dalam mulut, ia mencabik makanan dengan kedua kaki dan paruh yang melengkung berujung runcing. Selama pengamatan di tempat ini, kata Usep Suparman, peneliti dari Raptor Conservation Society (RCS), bajing menjadi makanan kesukaan elang Jawa. Pada musim penghujan, saat mangsa utamanya kerap bersembunyi di rongga batang pohon, ia kedapatan menyambar anak monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Saat langit berawan kelabu dan sinar mentari tak cukup kuat untuk menyalurkan udara panas, elang jawa menghabiskan waktu dengan bertengger di dahan pohon di dalam hutan, menunggu buruan yang tersedia di sekitarnya. Kadangkala ia mencari mangsa dengan cara terbang di dalam tajuk di sela pepohonan yang tak terlalu rapat.

Sarang elang Jawa terdapat di pohon yang mencuat dan berbatang besar, seperti pasang, puspa (Schima wallichii) dan rasamala (Altingia excelsa). Pohon-pohon sarang itu selalu terisolasi dari pohon lain di sekitarnya, dan di dalam hutan alami yang berada di lereng bukit atau gunung dengan kemiringan sedang sampai curam. Ketinggian pohon sarang berada di atas 800 meter dari permukaan laut. Tak jauh dari sarang, di dasar lereng selalu terdapat aliran sungai. Hasil penelitian di berbagai lokasi, telah menunjukkan perilaku tersebut. Pemilihan tersebut didorong akan kebutuhan pemeliharaan dan perlindungan anak terhadap gangguan-gangguan satwa lain.

Kala membuat sarang yang berbentuk cawan dengan lebar 40-45 sentimeter dan tinggi sekitar 35 sentimeter, jantan dan betina bergotong royong mencari bahan-bahan yang diperlukan. Dengan menggunakan paruh yang keras dan kuat, mereka mematahkan ranting dan membawanya ke pohon sarang. Para peneliti mencatat, jantan lebih mendominasi dalam pencarian bahan sedangkan betina lebih sibuk mengurusi pembentukan sarang.

Musim berbiak elang Jawa berlangsung sepanjang tahun dengan menghasilkan satu butir telur. Di beberapa tempat, pasangan elang jawa diketahui bertelur pada bulan Februari-September. Namun, ada pula peneliti yang menyebutkan antara Januari sampai Juni. Burung ini termasuk satwa yang setia kepada pasangan hidupnya. Pasangan elang Jawa berkopulasi selama lebih kurang delapan detik, sebagian besar dilakukan di luar sarang.

Pada masa awal pengeraman, induk jantan dan betina bergantian mengerami telur. Namun, setelah itu induk betina terlihat lebih banyak tinggal di sarang sementara sang jantan bertugas mencari makanan. Pembagian tugas ini teramat penting. Bila pengeraman kurang intensif, induk betina terlampau sering keluar sarang untuk berburu mangsa akibat kekurangan pasokan makanan dari si jantan, telur dapat gagal menetas. Selain itu, kecukupan mangsa di sekitar sarang dan faktor cuaca turut mendukung keberhasilan.

Telur elang Jawa akan menetas setelah 48 hari pengeraman. Induk betina mencoba meninggalkan sarang saat sang anak berusia lebih dari satu minggu, tubuhnya berselimut bulu seputih kapas dan mulai terlihat bintik-bintik hitam di bagian sayap kiri dan kanan. Anak elang Jawa belajar berdiri dan bersuara saat induk datang membawa makanan.

Di usia sembilan minggu, anak elang Jawa telah berbulu coklat susu dengan sayap bagian atas berwarna hitam dan bagian bawah masih berwarna coklat. Jambul coklat mulai memanjang di bagian kepala yang berwarna senada dengan bulu. Ia mulai mengepakkan sayap, menyelisik, bersuara dan melompat dari sarang hingga mampu bertengger di dahan. Selama rentang usia 12–30 minggu, sang anak menyerap berbagai pelajaran dari induk: berburu, terbang melingkar di atas tutupan hutan, membawa ranting hingga mematikan mangsa.

Ketika anak elang Jawa telah mampu terbang, induk jantan menyerahkan tugas perawatan dan pengasuhan kepada betina. Si jantan lebih suka mengawasi sarang dari kejauhan dan terbang lebih tinggi agar anak tak mengikuti. Pemberian pakan pun lebih banyak dilakukan induk betina, yang menentukan pula keberhasilan dari perkembangbiakan.

Anak yang telah beranjak remaja akan disapih induknya. Apabila sudah mampu hidup sendiri, si anak akan menjauhi wilayah jelajah sang induk, antara 3,5–5 kilometer persegi. Induk akan bersikap agresif, mengejar sambil bersuara, sebagai bagian dalam penilaian kemampuan terbang sang anak.

Elang Jawa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan satu keturunan. Para peneliti menyebutkan, bila sebutir telur gagal menetas atau diambil, elang Jawa akan kembali bertelur di waktu yang sama. Namun dapat terjadi pula, pasangan itu tak berbiak untuk satu tahun berikutnya atau bahkan lebih. Itu sebabnya, populasi mereka sulit bertambah.

Faktor alami yang menyebabkan lambatnya perkembangan populasi elang Jawa masih ditambah dengan ancaman lain. Perubahan fungsi hutan primer menjadi permukiman, pembangunan jalan, pertanian makin marak. Akibatnya, populasi mereka terpisah-pisah. Para peneliti memperkirakan hanya 200–400 ekor elang Jawa hidup di dalam hutan primer yang tersisa di kawasan dataran rendah dan pegunungan sepanjang pulau terpadat di Indonesia itu. Tekanan lainnya, perburuan untuk kepentingan perdagangan. Dalam bisnis ilegal satwa, burung yang telah dilindungi sejak tahun 1970 ini menjadi incaran pemburu. Usep mencontohkan, di kawasan Telaga Warna, beberapa kali didapati anak elang Jawa tertangkap jala kabut yang sengaja dipasang oleh para penangkap burung.

Berbagai ancaman itu telah mendorong para konservasionis untuk memasukkannya sebagai burung pemangsa kategori genting, karena menghadapi risiko kepunahan mencapai 20 persen dalam 20 tahun atau lima generasi. Mereka pun menyusun strategi penyelamatan elang Jawa agar tak bernasib sama seperti harimau Jawa, si penguasa rimba. Contohnya, proses penyadartahuan bagi masyarakat di sekitar kawasan habitat alami.

Di tengah ancaman dan usaha penyelamatan, induk betina terus memantau perkembangan anak. Bila telah siap sang anak akan mengembara, mencari wilayah kekuasaan dan pasangan hidup. Dan si induk betina, bersama jantan, akan kembali merajut kehidupan, menitiskan keperkasaan sang garuda di atas langit Jawa. [***]

[National Geographic Indonesia edisi Juni 2006 dengan foto-foto oleh Eriek Nurhikmat dan tambahan satu foto saya]

Photostory: Javan-Hawk Eagle

Share This Post

4 comments
Leave a comment »

  1. Maaf, ya kalo aku nggak tidak teliti. Tetapi makanan Elang jawa apa ya?

    I need your reply thx..

  2. di antaranya ular, kadal, bunglon, tokek, anak ayam.

  3. Pak Rey yang baik,

    Apakah Elang Jawa ini dilindungi oleh pemerintah? Sekedar informasi di gunung Tampomas masih terdapat Elang Jawa. Yang menjadi penjaga agar Elang Jawa tsb tidak diganggu adalah Pak Sahli putera dari Pak Kasmad (kuncen gunung Tampomas di wana wisata Curug Ciputra Wangi, Desa Narimbang, Buah Dua, Sumedang).
    Pak Sahli meminta saya untuk menginformasikan keberadaan Elang Jawa tsb kepada para pecinta dan peneliti Elang di Indonesia agar bisa melakukan kunjungan dan penelitian disana dengan tujuan untuk melindungi keberadaan Elang Jawa di gunung Tampomas. Mudah2an keinginan Pak Sahli ini dapat terwujud. Terima kasih atas perhatiannya. Salam

  4. Elang Jawa sudah pasti habitat aslinya di pulau Jawa, tapi seperti kita tahu pulau Jawa sudah padat oleh manusia dan pasti akan lebih padat lagi di masa depan. jangan sampai nasibnya seperti harimau Jawa. ayo para pejuang konservasi, selamatka elang Jawa!!

Leave Comment