Sunday, September 5, 2010

Macan Pipa

Mar 23rd, 2006 | By rey | Category: Press

chevron_8405

Alih-alih berseteru demi memperebutkan tempat hidup, manusia dapat hidup berdampingan dengan hidupan liar—bahkan termasuk yang digolongkan ke dalam kategori buas seperti macan tutul (Panthera pardus pardus). Di areal milik perusahaan Chevron-Unocal di kawasan hutan Gunung Salak, Jawa Barat, macan tutul tidak diganggu manusia meskipun kucing besar itu sering menampakkan diri dengan cara yang unik: bersantai di atas jaringan pipa panas bumi.

Chevron-Unocal adalah perusahaan yang mengelola sumur-sumur panas bumi (geothermal) seluas lebih dari 115 ribu hektare di kawasan yang bersinggungan dengan Taman Nasional Gunung Salak-Halimun. Perusahaan itu menyuplai panas bumi kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang kemudian menggunakannya untuk membangkitkan daya listrik. Dari sumur, gas panas bumi disalurkan melalui pipa-pipa berukuran besar dan di sanalah macan tutul kerap menghangatkan tubuh. Sejak 1997, berkali-kali karyawan setempat berjumpa dengan macan tutul. Sang macan tidak diganggu—hanya didokumentasikan dengan lensa kamera.

Pertama kali berjumpa, saya hanya berani memotret dari dalam mobil,” kata Iwan Nurzackwan, petugas penyelamatan yang telah mengoleksi banyak foto si kucing besar. “Tetapi kucing buas itu tampaknya tidak terganggu oleh kehadiran manusia dan suara mesin mobil, sementara saya merasa jarak untuk memotretnya kurang dekat.” Iwan kemudian memberanikan diri membuka kaca mobil, membuka pintu, dan menurunkan sebelah kaki. “Macan itu diam saja di atas pipa. Ketika saya turun dan mendekat, ia tetap diam seolah-olah mengizinkan diambil gambarnya.” Sejak itulah Iwan berkali-kali memotret macan tutul dari jarak dekat.

Lantaran seringnya memotret macan tutul, Iwan selalu diberi tahu oleh para karyawan lainnya apabila mendapati kehadiran macan tutul di lokasi tempat mereka bekerja. “Macan-macan itu kemudian disebut rekan-rekan sebagai ‘peliharaan’ saya,” katanya. Karena tidak pernah diganggu, para macan itu berani untuk sering-sering muncul. “Paling sering pagi-pagi sampai sebelum pukul sepuluh. Dan paling sering mereka dipergoki ketika sedang merebahkan diri di atas jaringan pipa, meskipun banyak pula pekerja yang bertemu macan—atau anak-anaknya—kala melintas di jalan.”

Banyak kejadian lucu yang mewarnai pertemuan Iwan dengan “para peliharaannya” itu. Misalnya bagaimana seekor macan turun dengan cara memeluk pipa yang posisinya vertikal dan memelorotkan diri ke tanah. Pernah pula suatu kali, Iwan diberi tahu akan kehadiran macan tutul di salah satu lokasi. Ketika ke sana, ia menengok kiri-kanan tetapi tak dilihatnya kucing besar yang dimaksud rekan-rekannya. Baru kemudian ia menyadari, macan tutul itu sedang bercokol di sebuah dahan pohon di atas kepalanya!

Iwan agaknya bukan bernasib baik karena tidak diserang oleh hewan buas ini karena memotretnya secara langsung dari jarak dekat—umumnya pemotretan hewan buas di alam bebas dilakukan dengan jebakan kamera. Akan tetapi Iwan tak sekadar beruntung. Sebagai predator utama di Jawa, status yang diperoleh setelah sebagian besar ilmuwan mengkonfirmasi kepunahan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), macan tutul memang jarang tercatat menyerang manusia.

Di berbagai tempat, justru macan yang cukup sering ditangkap manusia karena menyerang ternak. Hal itu merupakan indikasi berkurangnya ketersediaan pakan di habitat mereka—utamanya rusa, kijang, babi hutan, dan monyet. Jika sampai menyerang manusia untuk dijadikan pakannya, berarti macan tutul tidak saja telah kesulitan mencari makanan alaminya, tetapi habitatnya pun telah benar-benar terdesak, mengutip penjelasan peneliti macan tutul, Syahrial Anwar Harahap.

Di antara anggota famili felidae, macan tutul adalah spesies yang paling toleran terhadap perubahan habitat. Tetapi di Indonesia, mereka hanya terdapat di Jawa—itu pun populasinya terus menurun. Mereka kian terdesak oleh pemukiman manusia dan hanya dapat bertahan di beberapa area hutan yang tersisa. Berdasarkan Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999, keberadaan satwa ini dilindungi. Perlakuan serupa diberikan di dunia internasional. Menurut kriteria CITES (Convention International on The Trade in Endangered Species) atau konvensi internasional untuk perdagangan spesies yang terancam punah pada tahun 2001, macan tutul digolongkan ke dalam Appendix I. Sedangkan IUCN (International Union for Conservation of Nature), memasukkannya ke dalam kategori genting (endangered) yang artinya spesies dengan risiko kepunahan sangat tinggi. Spesies yang masuk kategori ini populasinya di alam telah berkurang sebesar 50 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dan memiliki peluang untuk punah lebih dari 20 persen selama 20 tahun mendatang.

Macan tutul dikenal sebagai predator yang ahli memanjat pohon di samping memiliki pendengaran dan penglihatan yang tajam. Karena perilakunya yang soliter, tidak jarang macan tutul mengerek buruannya untuk disantap di atas pohon dengan tenang. Macan tutul jantan yang dewasa dapat memiliki berat tubuh hingga 58 kilogram, sedangkan yang betina 38 kilogram. Yang jantan biasanya lebih suka berkelana sendiri tetapi dalam waktu tertentu akan bertemu betinanya untuk kawin. Masa kehamilannya antara 90-105 hari, seekor induk macan bisa melahirkan tiga sampai lima anakan kala waktunya tiba. Semua anakan selalu dijaganya sampai mereka berumur 13 hingga 18 bulan.

Tahun lalu, satwa ini ditetapkan sebagai identitas fauna Provinsi Jawa Barat untuk menggantikan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) yang ditetapkan sebagai identitas Provinsi Banten. Keberadaan mereka di area Chevron-Unocal sendiri dijamin aman oleh Manajer Hubungan Masyarakat, Iwan Azof. Ia memberi garansi bahwa, “Macan tutul tidak pernah kami ganggu karena perusahaan ini memiliki komitmen terhadap upaya pelestarian di kawasan Gunung Salak.” Jika dapat terus demikian, berarti di tempat itu manusia dan hidupan liar dapat berbagi tempat kehidupan seperti seharusnya sejak zaman dahulu kala.-—Reynold Sumayku

Share This Post

2 comments
Leave a comment »

  1. WAh..bagus juga y..macan bisa bersahabat sama manusia..
    emoga keberadaan acan tutulnya tidak mengganggu para pekerja yang ada di PT. Chevron..

  2. menurut kabar yang saya dengar sering atau beberapa kali terlihat harimau jawa di sekitar Chevron apa benar soalnya waktu saya penelitian kumbang kotoran yang merombak kotoran macan saya menemukan jajak kaki macan tetapi ukurannya beda dengan macan tutul agak lebih besar trims

Leave Comment