Ronny Patti dalam Kenangan
Sep 23rd, 2008 | By rey | Category: QuotesRonny mengirim sepucuk surat ke PSSI yang isinya menyarankan siapa saja yang pantas dipilih masuk ke tim 1976—kecuali dirinya. Sebagian gagasan line-up versi Ronny itu diterima baik oleh Coerver karena amat masuk akal.
Sejarah mencatat tim yang dikapteni Iswadi itu nyaris lolos ke Olimpiade 1976 Toronto (Kanada) andai menang adu penalti atas Korea Utara. Tak lama kemudian Ronny kembali ke timnas bergabung dengan Iswadi di timnas SEA Games 1979 yang di final di Stadion Utama Senayan ditaklukkan Malaysia 0-1. Iswadi tetap kapten, Ronny wakilnya.
Pada tahun-tahun itu Iswadi kapten klub Jayakarta di kompetisi Galatama, Ronny kapten Warna Agung. Di kompetisi perdana 1979-1980 Warna Agung jadi juara setelah di partai terakhir menaklukkan Jayakarta 1-0. Lewat kepemimpinan dan corak permainan di kedua klub inilah watak kedua pemain besar itu tampak jelas.
Kutipan di atas diambil dari tulisan wartawan Kompas, Budiarto Shambazy, yang mengenang dua mantan pemain sepak bola nasional Indonesia—-Iswadi Idris dan Ronny Pattinasarany—-yang telah berpulang.
Ini halaman koran yang memuat artikel tersebut. Tampak dalam gambar, pemain yang sedang menendang bola adalah Iswadi Idris, sedangkan yang berdiri memperhatikan sambil mengepit bola adalah Ronny Pattinasarany. Foto: Arsip Kompas. Untuk membaca tulisan tersebut selengkapnya di web Kompas silakan klik link ini.
Sejauh ingatan, Ronny Pattinasarany pertama kali saya lihat permainannya suatu sore ketika TVRI menyiarkan Pra Piala Dunia antara Indonesia versus Selandia Baru di Stadion 10 Nopember Surabaya pada tahun 1982. Ia salah satu pemain nasional yang saya kagumi. Memiliki karakter, selalu all-out, dan jiwa kepemimpinannya tinggi, sampai ia pensiun dari lapangan hijau dan kepemimpinannya di timnas digantikan oleh Herry Kiswanto, kalau tidak salah. Almarhum ayah saya, yang juga mengikuti sepak bola nasional, saya ingat dulu sering menyebut nama Ronny Pattinasarany sebagai “Ronny Patti”.
Kolumnis di koran, pelatih, pembina pemain muda usia, dan komentator televisi adalah kegiatan-kegiatan Ronny lainnya yang dikenal publik setelah gantung sepatu. Komentar-komentarnya dalam siaran langsung pertandingan-pertandingan Serie-A Liga Italia juga saya sukai, terutama mengenai organisasi pertahanan sebuah tim dan pergerakan-pergerakan di lapangan.
Saat masih bekerja sebagai wartawan sepak bola, saya melihat Ronny secara langsung dalam beberapa kesempatan. Dan dari kesemuanya itu—-termasuk suatu kali dalam ruangan kelas mengenai penulisan topik sepak bola—-terbukti bahwa Om itu memang memiliki wawasan sepak bola yang kuat. Dengan dedikasi dan karakternya, ia seseorang yang saya kagumi dari dunia sepak bola Indonesia.

om boleh tahu info no punggung yg dipakai ronny patti sewaktu di timnas?
trims
Waduh.. saya lupa, mungkin nomor 6 ya? Malah ingat penerusnya di timnas Herry Kiswanto nomor punggung 5.
Maaf salah. Herry Kiswanto nomor 15.