Sunday, September 5, 2010

Jalan-Jalan ke Bonbin Bandung

Sep 15th, 2008 | By rey | Category: Notes

naomi_54951.jpg

Naomi berjalan di sebelah ibunya memasuki terminal bus Leuwi Panjang Bandung. Saya hampiri dia dan dari jauh sudah saya pasang senyum–berharap dia tidak menangis. Bukan apa-apa. Di terminal ini, Desember 2006, ia terbangun di pelukan ibunya dan menangis ketika melihat saya untuk pertama kalinya sejak ia bisa berjalan, dan terus menangis, tidak mau saya dekati hampir sepanjang hari itu.

Kali ini dia tidak menangis (sudah tiga tahun dua bulan lebih umurnya!). Dan ia tersenyum sedikit begitu saya angkat, cium, dan gendong. Amanlah berarti.

Lalu kami naik bus ke daerah Dago, melewati jalan-jalan Bandung yang macet. Ia sibuk berceloteh tentang bus yang tinggi, angkot, apa ini-apa itu, kenapa begitu-begini, kuning=yellow, merah=red, biru=blue, hijau=green, dan sebagainya, dan lain-lain.

Turun dari bus, jalan kaki menuju Kebun Binatang. Ada kuda, ada delman.

“Omi mau naik delman.”

Tetapi bukan delman yang jadi ia naiki, melainkan kudanya langsung.

Lalu kebun binatang.

“Beli kacang, papa. Untuk kasih makan gajah. Nanti omi yang kasih. Dilempar aja ya, Omi takut soalnya.”

Nggak apa-apa dikasih langsung dari tangan, gajah ‘kan baik.

“Iya tapi dilempar aja ya.”

“Gajah nggak punya mulut, papa?”

Punya, di bawah belalainya.

Seharian itu ia kelihatan gembira. Dan juga saya.

“Ada manyu di sana?”

“Mana gajahnya?”

Itu macan tutul.

“Ada anaknya?”

Dari kesemua satwa di kebun binatang Bandung, Naomi paling lama memperhatikan gajah dan burung-burung dalam sangkar raksasa (elang jawa, elang bondol, kemudian merak, dll). Keinginannya untuk memberi makan kacang ke gajah tidak bisa diwujudkan-kandang gajah sedang direnovasi sehingga penghuninya sementara dipindahkan ke arena gajah tunggang yang letaknya paling ujung area kebun binatang ini. Naomi sempat naik salah satu gajah tunggang bersama pawang gajah, tetapi tidak bisa memberinya makan kacang, tentu saja.

Akhirnya beberapa kacang dikupas dan dilemparkan ke burung merak. “Mungkin dia lapar, papa.” (Saya sibuk berpikir apakah tindakan ini benar, atau dapat dibenarkan–memberikan kacang kepada burung merak). Untungnya perhatian dia kemudian beralih kepada penjual mainan: berbentuk kupu-kupu, dengan roda dan tangkai kayu sebagai pegangan. Tanpa bertanya dahulu apakah boleh membeli mainan itu, ia seketika berlari mendatangi penjualnya dan siap bernegosiasi sendiri. “Yang biru.”

Sisa kacang diberikan kepada ikan-ikan emas di sebuah kolam. Cukup lama ia duduk di tepian kolam itu, terlihat excited ketika ikan-ikan emas berebutan makan. Kacang habis. Tapi Omi tidak mau tahu.

“Kasihan, ikan-ikan yang itu kayaknya masih lapar, papa.”

Kan sudah tadi? Dia sudah makan.

“Belum, mungkin yang itu belum kebagian. Tadi ‘kan dia berenang di sana.”

Kan ikannya banyak? Memangnya Omi hapal ikannya satu-satu?

Di sebuah shelter, ia mengajak saya main petak-umpet. Atau berlari menjauh dan kemudian berbalik sambil mengangkat tangannya, berlari ke arah saya, dan tertawa, berteriak, “Aaaaaaaaa”. Maksudnya agar saya juga berlari ke arah dia kemudian memeluk dan menggendongnya. Itu yang kami lakukan berulang-ulang, seperti di film-film India. :p

Share This Post

2 comments
Leave a comment »

  1. si Omi dibawa kekantor lagi donk….waktu itu blum sempet main ama Tantenya di NG kannn..

  2. entar kapan2 dess..

Leave Comment