Melongok Si Hijau di Meru Betiri

Kawasan Meru Betiri di Jawa Timur ditetapkan sebagai taman nasional lantaran diyakini sebagai habitat harimau jawa yang terakhir. Sayangnya, sisa-sisa satwa legendaris itu belum berhasil dibuktikan keberadaannya melalui foto. Penyu hijau lantas jadi primadona. Eh, apa mau dikata. Si Hijau ini pun ternyata mulai terancam.

Berwisata ke Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), sebelah selatan Jember, Jawa Timur, cukup menyenangkan karena kehadiran Si Hijau. Ini sebutan penulis yang beberapa waktu lalu berkunjung ke sana, untuk penyu hijau yang nama latinnya Chelonia mydas. Lelah karena menempuh perjalanan yang berat hilang begitu melihat polah satwa liar yang dilindungi ini.

Ada fakta menarik bahwa dari lima jenis cheloniidae (penyu laut) di dunia, empat di antaranya sering mendarat di pantai Sukamade di kawasan TNMB. Selain Si Hijau yang paling sering muncul, ada pula penyu sisik, abu-abu, dan penyu belimbing. Uniknya lagi, mereka tak sekadar mendarat, tapi sekaligus bertelur.

Tak dapat disangkal, penyu menjadi atraksi menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Meru Betiri. Para peneliti atau pencinta lingkungan pun menjadikan penyu sebagai obyek menarik. Apabila gagal mengamati penyu bertelur, paling sial wisatawan di Meru Betiri akan dapat menyaksikan penyu-penyu yang sedang memeti. Artinya, penyu yang naik ke pantai untuk melakukan survey terhadap calon lokasi bertelurnya.

Ketika melihat sendiri Si Hijau berkeliaran di pantai Sukamade, penulis bertanya-tanya. Kenapa dia sering memilih pantai Sukamade, sementara di Indonesia ada ribuan kilometer garis pantai yang lain?

Pertanyaan itu agak terjawab oleh penjelasan Kepala Balai TNMB, Ir. Siswoyo. Penulis beruntung bertemu dia di sana, karena sehari-harinya Siswoyo berkantor di kantor pusat TNMB di Jember.

Menurut Siswoyo, Si Hijau sering mendarat dan bertelur di Sukamade, salah satunya lantaran mereka punya inner memory. Penyu punya ingatan tajam. Saat masih berupa tukik (anak penyu), mereka ditelurkan dan ditetaskan di sini. “Giliran mereka dewasa dan mau bertelur, secara naluriah mereka akan datang ke mari,” katanya.

Dalam semalam, biasanya ada 3-4 penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Kalau penyu hijau atau penyu belimping yang naik, bersiaplah melihat sebuah keajaiban. Ukuran Si Hijau panjangnya mencapai satu meter, sedangkan penyu belimbing yang kini jarang muncul bisa lebih besar lagi. “Penyu belimbing ukurannya ada yang hampir sebesar mobil VW New Beetle,” jelas Dewi Satriani, Communications Officer WWF Indonesia, pada lain kesempatan.

Penyu juga panjang umur. Biasanya yang bertelur di Meru Betiri berusia sedikitnya antara 25-30 tahun, usia saat mereka mulai mencapai kematangan secara seksual. Usia penyu sendiri bisa mencapai lebih dari seratus tahun.

Si Hijau daerah penyebarannya di perairan tropis termasuk Indonesia. “Yang ada di Indonesia, pola migrasinya ke selatan sampai ke Australia, ke utara sampai Filipina, dan ke timur sampai kepulauan Pasifik. Tak semua pantai menjadi tempat peneluran penyu,” terang Dewi.

Di Indonesia, penyu ditemukan di beberapa tempat. Sebutlah misalnya perairan Taka Bone Rate di Sulawesi Selatan, di Nusa Tenggara sampai ke Alor, di Papua, dan Laut Banda. Juga ditambah beberapa pantai di Jawa, Sumatera Barat, Aceh, Papua, dan Nusa Tenggara.

Orang Indonesia mengenal Si Hijau dengan banyak sebutan. Di antaranya Penyu Daging, Penyu Sala, Penyu Bulan, Penyu Janjang, Penyu Katungkera, Penyu Penelur, atau Penyu Nijual. Di sekitar Pulau Roti (Nusa Tenggara Timur), penduduk menyebutnya Penyu Biasa. Sedangkan di Alor, nama yang populer adalah Penyu Kea.

Perisai yang berada di punggung Si Hijau memang berwarna agak kehijauan, namun hanya kentara kalau diamati baik-baik. Yang benar-benar hijau justru daging di bawah perisainya.

Entah celaka atau tidak, daging Si Hijau bisa menjadi hidangan di meja makan. Itu sebabnya perburuan terhadap satwa yang satu ini semakin marak. Padahal, Indonesia termasuk negara yang melindungi keberadaan dan populasi penyu hijau, melalui PP No. 7 Tahun 1999 dan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. Perdagangannya dilarang.

Di dunia internasional, penyu hijau bahkan masuk kategori terancam. Convention on Migratory Species (CMS), yang lingkupnya meliputi lebih dari 80 negara, menggolongkan Si Hijau ke dalam appendix I alias sangat terancam. Perlakuan serupa juga diberikan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Tak ketinggalan, IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) yang keanggotaannya meliputi 140-an negara. Satwa liar ini mereka golongkan ke dalam daftar “terancam”.

BEGADANG DEMI SI HIJAU
Si Hijau memang belum punah dan masih cukup mudah ditemui di Indonesia. Tapi dalam beberapa tahun mendatang, jumlahnya dipastikan terus menyusut. Pasalnya, tak hanya bagian daging yang diincar untuk dikonsumsi. Telur-telur Si Hijau juga selalu menjadi incaran karena di pasaran berharga cukup mahal.

“Di sini, pencuri telur penyu masih gentayangan dengan dalih ekonomi. Keuntungannya memang lumayan. Satu butir telur dihargai antara Rp1.000-1.200. Bahkan di toko-toko bisa mencapai 2.500 rupiah perbutir. Tak heran jika banyak orang yang tergiur. Bayangkan saja. Dari hasil mencuri, dalam semalam pemasukan mereka bisa mencapai Rp750.000,” jelas Siswoyo.

Seekor penyu bertelur dalam siklus tiga bulanan. Sekali bertelur, penyu menghasilkan paling kurang 110 butir telur. Rata-rata mereka bertelur antara 110 hingga 200 butir. Apabila dalam semalam ada empat ekor penyu naik untuk bertelur, berarti tak kurang terdapat 500-an butir telur yang wajib diamankan di Meru Betiri.

“Beberapa waktu lalu anak buah saya berhasil menangkap pencuri telur penyu. Orangnya ternyata sama dengan yang dulu-dulu juga. Iming-iming keuntungan besar dalam semalam rupanya membuat orang-orang seperti itu tak kapok,” lanjutnya.

Sebagai langkah antisipasi, TNMB mengerahkan para staf dan jagawana untuk bergiliran melakukan patroli di kawasan pantai Sukamade. Selain berpatroli, para petugas sekaligus melakukan pengamatan dan pendataan. Berapa penyu yang naik untuk bertelur, jenisnya apa, dan berapa jumlah telurnya. Mereka juga memastikan agar setiap penyu yang datang tak merasa terusik.

Pekerjaan tersebut tak terlalu sulit namun juga tak mudah. Sebabnya, para petugas harus rela begadang sambil membuka mata lebar-lebar untuk mengawasi penyu. Umumnya, penyu naik dan bertelur antara pukul 20.00 sampai 03.00 dini hari.

Wartono, jagawana senior asal Semarang, menjelaskan, mereka yang patroli dituntut menguasai beberapa pengetahuan tentang perilaku penyu. Misalnya saja, penyu dikenal sebagai satwa yang pemalu. Apabila mengetahui kehadiran manusia di pantai, sang penyu biasanya mengurungkan niat untuk mendarat.

Sedikit pun para petugas tak boleh menyalakan api atau sinar apabila sedang ronda di pantai. Meski keadaan gelap gulita, tanpa cahaya sekecil apapun, kehadiran penyu di pantai bisa diketahui secara gampang. “Dari jejaknya, Mas, atau dari gerakannya. Meskipun gelap, kalau sudah biasa, akan tahu jika ada penyu datang,” jelas Wartono.

Peraturan yang sama berlaku untuk para wisatawan yang ingin menonton penyu bertelur. Korek api atau lampu senter tak diperkenankan, juga merokok. Lain halnya jika penyu-penyu tersebut sudah mendarat, menggali lubang, dan kemudian mulai bertelur. Cahaya-cahaya boleh dinyalakan karena tak lagi mengusik penyu. Ketika penyu selesai bertelur, para wisatawan juga diperbolehkan bergantian menyentuh tubuh si penyu.

“Penyu-penyu itu tak merasa terusik oleh manusia apabila sudah menggali lubang dan bertelur. Meskipun begitu, kita sebaiknya jangan bersuara gaduh. Menyentuh bagian perisai penyu boleh saja asal bergantian agar si penyu tak panik,” ujarnya.

Seusai bertelur, sang penyu harus dikawal agar kembali ke laut dengan aman. Menurut Wartono, kadangkala penyu kesulitan untuk kembali ke air karena terjebak ranting-ranting kayu di pantai. Begitu penyu melaut, barulah telur-telurnya dihitung lantas dipilih yang bagus untuk dirawat. Di tempat ini, Si Hijau dan keluarganya dirawat. Mulai dari berupa telur sampai menetas dan siap untuk mandiri.

Dari telur sampai menetas menjadi tukik (anak penyu) butuh waktu sekitar dua bulan. “Tukik biasanya butuh waktu setahun agar benar-benar siap dilepas ke laut. Kalau kurang dari setahun mereka belum kuat. Belum sanggup bertahan hidup, mencari makan, atau menghindari predator yang mau memangsa mereka,” timpal Siswoyo.

Tukik-tukik tersebut diberi makan ebi (udang kering) selama berada dalam perawatan. Mereka ditempatkan dalam bak-bak penampungan. “Sayangnya tak seluruh telur itu mampu kami tetaskan lalu dipelihara sampai siap untuk dikembalikan ke habitatnya. Dari seekor penyu yang bertelur, paling banter kami hanya mampu merawat 50 butir telur karena fasilitas yang terbatas,” katanya.

DIPASANGI TANDA
Penegakan hukum terhadap kasus-kasus pencurian telur penyu atau penangkapan satwa liar yang dilindungi masih lemah. Meski satwa tersebut dilindungi hukum, tetap saja para pencuri berani beraksi. Mereka tahu, seandainya tertangkap hanya akan mendapat hukuman yang tak terlalu berat di meja pengadilan.

Masyarakat umum kebanyakan belum begitu peduli terhadap nilai-nilai konservasi bagi penyu hijau. Bukan rahasia lagi, misalnya, daging penyu adalah santapan yang cukup digemari. Sementara itu, telur penyu hijau di beberapa tempat dipercaya dapat meningkatkan fungsi seksual dan menjadi bahan obat-obatan.

Tak diketahui persis berapa jumlah penyu hijau yang dapat diidentifikasi di Meru Betiri, namun bukan berarti upaya ke arah itu nihil. Setidaknya, seperti yang disaksikan penulis, terlihat bahwa pihak taman nasional turut berusaha mendata penyu-penyu yang mendarat di pantai Sukamade.

Salah satu caranya dengan memasang tag identifier ke cangkang penyu. Terbuat dari bahan alumunium, plat selebar kira-kira 1,5 cm itu diberi kode nomor tertentu untuk mengidentifikasi penyu dan memonitor pergerakannya.

“Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan pemasangan tanda seperti itu. Untuk meneliti jangkauan migrasinya, misalnya. Jika seekor penyu ditemukan mendarat di Sumatera atau di negara lain, bisa kita kenali. Kalau ada penyu yang ditangkap orang, asal ada yg melaporkannya kita akan tahu itu penyu yang mana, atau dari mana asalnya,” papar Siswoyo.

Sekilas, lempengan alumunium itu biasa saja. Bisa dibuat di mana-mana. Tapi, nomor-nomor yang tertera pada plat itu bukan dibubuhkan secara sembarangan. Nomor-nomor itu adalah registrasi resmi yang berlaku internasional.

Bukan hanya di Meru Betiri, di beberapa tempat lain pun Si Hijau setengah mati dilindungi. Kok ya masih ada yang tega-teganya menjarah telur atau menjual dagingnya. Jangan-jangan anak cucu nanti cuma bisa melihat Si Hijau dari gambar-gambar. Sayang sekali! ? Reynold Sumayku

Dilema Aspal Jalan, Konservasi, dan Wisata Ekologis
TNMB terletak di wilayah dua kabupaten, yaitu Jember dan Banyuwangi. Namanya diambil dari meru (gunung) tertinggi di kawasan itu, Gunung Betiri (1.100 m dpl). Luas total kawasan adalah 58.000 hektar. Sebanyak 37.585 hektar masuk dalam wilayah Kabupaten Jember, sedangkan 20.145 masuk dalam wilayah Kabupaten Bayuwangi.

Mau datang ke sana? Terus terang, aksesnya susah. Tetapi, bagi wisatawan atau peneliti yang punya sedikit saja jiwa petualangan, sulitnya perjalanan ke Merubetiri justru mengasyikkan. Dari Glenmore, sekitar 40 kilometer di sebelah tenggara Jember, petualangan dapat dimulai. Di kota itu terdapat para pengojek motor yang kadang berani mengantar orang ke TNMB lewat jalan pintas.

Jalan pintas yang dimaksud tetap saja jauh sekali. Melewati perkebunan coklat dan karet, selama sekitar tiga jam perjalanan “off road” harus ditempuh untuk mencapai pintu masuk taman nasional. Bayangkan lelahnya, hanya bisa naik motor pula!

Alternatif paling mudah adalah melewati jalan normal. Dari Genteng, beberapa kilometer arah tenggara dari Glenmore yang dibelah ruas jalan raya Jember-Banyuwangi, perjalanan diteruskan ke Jajag, lalu Pesanggaran, tempat terakhir yang tersedia kendaraan umum ke Sukamade Baru. Desa yang disebut terakhir ini berada di dalam wilayah taman nasional, dekat pantai yang terkenal dengan penyu hijaunya.

Perjalanan ke sana ditempuh menggunakan “taksi” berupa truk. Ini satu-satunya transportasi umum bagi penduduk sekitar kawasan taman nasional. Sehari hanya ada sekali keberangkatan, yaitu siang, tidak lebih dari pukul 13.00 WIB. Penumpang dipungut bayaran Rp 9.000. Jalan masih cukup bagus sampai Sarongan, tempat pengunjung wajib melapor ke kantor pengelola TNMB.

Mulai dari Sarongan, kondisi jalan mulai memburuk. Di tepi pantai Rajegwesi, dekat pintu masuk TNMB, jalan tidak lagi memadai untuk dilewati kendaraan jenis sedan. Di Rajegwesi, yang juga terdapat sebuah desa nelayan, ada Pusat Informasi TNMB meskipun sering kosong melompong.

Jalan menuju Sukamade Baru dari Rajegwesi benar-benar sulit. Hanya truk, motor trail, dan jeep yang dapat melintasinya. Kondisi jalan sangat parah dengan kombinasi batuan, tanah, dan lubang-lubang menganga. Itu pun harus menanjak bukit dan berkelok-kelok di tengah hutan. Di puncak bukit itu terdapat pos penjagaan milik Perkebunan Sukamade Baru.

Para penumpang diantar hingga desa Sukamade Baru, lima kilometer setelah pos penjagaan. Untuk menuju kantor TNMB di dekat pantai, pengunjung menggunakan ojek motor yang dikendarai oleh pekerja perkebunan.

Soal kondisi jalan yang buruk itu diakui Kepala Balai TNMB, Ir. Siswanto sebagai sebuah situasi dilematis. “Wisatawan asing tak suka jika jalan masuk ke sini diaspal. Sampai ada yang mengancam tak mau datang lagi. Buat mereka, jalan beraspal untuk melihat penyu bukanlah sebuah penawaran menarik. Sebaliknya, pengunjung lokal justru menuntut agar jalan diaspal agar tempat ini ramai,” katanya.

Wisatawan asing umumnya menghendaki agar alam di kawasan TNMB dibiarkan apa adanya. Mereka punya wawasan lingkungan yang baik dan menunjukkan kepedulian lebih tinggi pada upaya-upaya konservasi. “Pengunjung yang orang kita sendiri justru sering seenaknya. Membuang sampah sembarangan atau membuat gaduh di alam,” sebutnya.

Wartono, jagawana, membenarkan hal tersebut. Soal akses masuk yang sulit, menurutnya justru ideal untuk menyeleksi pengunjung. “Kalau jalanannya beraspal mulus mungkin kami bakal semakin kewalahan. Pencuri telur penyu atau pemburu liar kian gampang beroperasi,” bilangnya.

Selain penyu, TNMB menawarkan beberapa keunikan flora dan fauna lainnya. Ada 350 jenis flora yang terdapat di dalam kawasan, termasuk 12 jenis yang dilindungi. Sedangkan fauna terdapat 127 jenis dan 54 di antaranya dilindungi.

Salah satu flora yang dilindungi adalah bunga rafflesia (rafflesia zollingeriana kds.) yang tumbuh di dekat pantai Sukamade dan Bandealit. Ukurannya tak sebesar Rafflesia arnoldi di Sumatera, diameternya hanya sekitar 30 cm. Saat mekar dan berbunga biasanya bulan Agustus. –Reynold Sumayku

http://ref.li/dhXxt

Comments 2

  1. ela wrote:

    sib sib……like this,,,ini nich yang aq butuhin,,..thanks

    Posted 23 Feb 2010 at 12:46 pm
  2. momomia ichigo wrote:

    yang aku butuhin tentang keberadaan asli penyu hijau gg ada
    hhhhhuuuuuuuufffffffffttttttt

    Posted 25 Jul 2010 at 7:29 am

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *


six + = 14