Bulutangkis: Jalan Berliku Menuju Bintang
May 29th, 2010 | By rey | Category: Press
Para pebulutangkis nasional bak bintang yang gemilang, bertabur pujian dan kebendaan. Namun di belakang pentas dunia, jalan berliku harus mereka tanggung.
Oleh Yunas Santhani Azis. Foto oleh Reynold Sumayku.
Gedung bulutangkis tua itu kecil saja, cuma memuat empat lapangan semen yang berlapis karpet karet hijau. Pencahayaannya juga tak terlalu benderang, bermodalkan dua kotak penerangan berisi 15 lampu neon yang digantung di langit-langit pada masing-masing sisi setiap lapangan. Namun dinding-dinding hijaunya yang lusuh penuh kemenangan, bersolek dengan puluhan foto pahlawan bulutangkis—seperti para peraih emas olimpiade Susi Susanti, Candra Wijaya, Tony Gunawan, Markis Kido, dan Hendra Setiawan. Mereka semua meniti karier dari gedung tersebut.
Hari itu di salah satu sudut gedung, tak jauh dari almari kaca besar yang sudah kusam pelitur kayunya dan sesak dengan piala, seorang remaja usia 15 tahun bersila di lantai. Hanya sekali dia bertanding untuk kemudian duduk diam selama beberapa jam, menatap belasan remaja lainnya berlatih. Tak seorang pun peduli. Menjelang sore, lelaki tua berkulit hitam, berambut putih dan berkaca mata mengajaknya pergi.
Inilah kali kedua bagi Muhammad Haman datang ke klub bulutangkis Jaya Raya dari kota tempat tinggalnya Solo. “Tahun lalu juga tes di sini, tapi tidak dipanggil. Kemarin kami ditelepon untuk tes hari ini,” kata Rahmat, si lelaki tua yang bersama anaknya berjalan pelan untuk kembali menempuh 447 kilometer menuju rumah. Setiap hari setelah itu, Haman akan gelisah menanti telepon berdering, berharap kabar dirinya diterima menjadi atlet pusat pendidikan dan latihan (pusdiklat) Jaya Raya yang bercokol di dalam kompleks sekolah atlet Ragunan Jakarta.
Kisah selengkapnya dapat dibaca di majalah National Geographic Indonesia edisi Mei 2010. Lihat di sini versi online-nya. Sedangkan ini untuk versi photostory.