Evolusi Sasando
Oct 26th, 2009 | By rey | Category: PressYusuf Messah dari Pulau Rote Nusa Tenggara Timur (atas) menyenandungkan sebuah lagu bertema hiburan bagi orang yang baru pulang bertani. Syairnya dalam bahasa lokal, dan dimainkan dengan ragam teo renda—salah satu dari belasan ragam memainkan sasando dalam masyarakat Rote. Sambil bersenandung, jari-jari kedua tangan Yusuf memetik 10 dawai yang mengelilingi sebatang bambu. Sisi belakang batang bambu itu dilindungi oleh tudung jalinan daun lontar yang berfungsi sebagai resonator.
Sasando berdawai 10 yang kerap disebut sasando gong itu dipercaya telah melekat dalam kebudayaan masyarakat Rote sejak abad ke-15 dan semula menggunakan tangga nada pentatonik untuk mengiringi syair tembang tradisional. Seiring derasnya arus kesenian modern, pemain sasando gong seperti Yusuf semakin sulit dicari di Rote.
Namun, salah satu bentuk evolusi sasando telah muncul untuk menyelamatkan alat musik ini dari kepunahan total. Seseorang bernama Arnoldus Edon (almarhum) telah diakui sebagai pemegang hak paten atas inovasi tersebut.
Sasando modern ini menggunakan tangga nada diatonik dan mengusung sejumlah modifikasi. Sasando baru ini dapat mengiringi lagu apapun sejauh kepiawaian pemainnya—termasuk lagu-lagu barat seperti Wonderful Tonight karya Eric Clapton atau Country Roads karya John Denver. Sejumlah pentas budaya dilaksanakan sampai ke luar negeri, pembuatannya telah menjadi industri, dan orang yang mempelajari cara memainkannya semakin banyak. —Reynold Sumayku
[Teks dimuat di Majalah NG Indonesia edisi Oktober 2009]
Related link: Sayup Denting Dawai Sasando.
Petikan sasando dan senandung tembang tradisional Rote di halaman ini adalah karya Yusuf Messah. Direkam dan ditampilkan dengan izin.
