Wednesday, September 8, 2010

Tak Hanya Hitam

Jan 18th, 2010 | By rey | Category: Press

Selain tidak ramah lingkungan, kantong plastik juga berpotensi tidak ramah kepada kesehatan. Terutama plastik kresek hasil daur ulang seperti yang sangat mudah dijumpai dalam transaksi di pinggir jalan.

“Proses daur ulangnya tidak melewati standar yang benar,” ucap Budiawan, ahli toksinologi dari Universitas Indonesia. “Kantong plastik seperti itu tidak melalui standar keamanan pangan.” Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) beberapa waktu lalu mengeluarkan peringatan agar masyarakat tidak menggunakan kantong plastik hasil daur ulang—terutama yang hitam—sebagai wadah langsung makanan siap santap. Namun, sesungguhnya bukan hanya yang hitam yang perlu diwaspadai.

Mata rantai proses daur ulang dimulai dari pengumpulan sampah-sampah plastik yang terdiri dari berbagai jenis komponen kimiawi penyusunnya. Kemudian di tempat daur ulang, bahan baku itu dicuci, dipilah, dihancurkan, diwarnai, hingga dicetak kembali. Ucap Budiawan, ”Tidak ada jaminan kalau bahan baku sampah plastiknya itu bukanlah bekas wadah pestisida, racun tikus, transfusi darah, dan sebagainya.” Meskipun telah dicuci, kantong plastik kresek mungkin masih mengandung residu atau ampas dari zat-zat berbahaya, yang bisa berpindah jika terjadi kontak langsung dengan makanan—terutama yang panas.

Proses daur ulang sebenarnya baik untuk mengurangi beban lingkungan, namun di Indonesia belum ada cukup pengawasan dalam prosesnya. ”Marilah mengelola risiko,” kata Budiawan, “dengan menghindari atau mengurangi pemakaiannya.”—Reynold Sumayku

Efek zat berbahaya yang mungkin terbawa:

Kadnium, plumbum atau timbal (dalam pewarna): kanker hati, gangguan intelegensia, ginjal, metabolisme tubuh, gangguan syaraf, perapuhan tulang.

Ftalat (pembentuk elastisitas): gangguan kesuburan laki-laki, kanker.

(Majalah National Geographic Indonesia edisi Januari 2010).

Share This Post

Leave Comment