Siaga Merah
Nov 26th, 2009 | By rey | Category: PressPenyusutan habitat dan perburuan terus menjadi faktor-faktor utama yang mendorong populasi monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) ke dalam status kritis atau selangkah lagi dari kepunahan. Critically endangered, begitu label yang tertera pada spesies ini dalam daftar merah satwa terancam hasil terbitan IUCN (International Union for Conservation of Nature).
Daftar yang disebut Red List of Threatened Species dan berisikan status konservasi berbagai jenis makhluk hidup itu paling baru diterbitkan pada 2009. Status yaki dalam daftar merah yang terbaru ini lebih buruk dari status endangered yang tertera pada edisi sebelumnya, tahun 2004.
Satwa yang disebut yaki oleh masyarakat setempat ini ditemukan di bagian timur Sulawesi Utara. Akan tetapi dalam jumlah yang kecil, yaki juga terdapat di Pulau Manado Tua, Talise, dan Pulau Bacan di Kepulauan Maluku (hasil introduksi). Di Pulau Lembeh dulunya juga terdapat yaki, namun sekarang sudah menghilang.
”Perburuan oleh manusia menjadi ancaman utama. ”Lebih tepatnya, perburuan untuk dikonsumsi,” ucap Giyarto, peneliti dari Macaca Nigra Project (kerja sama German Primate Centre, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Sam Ratulangi) di Cagar Alam Tangkoko-Batuangus dekat Bitung, Sulawesi Utara.
”Di Sulawesi, populasi spesies ini dalam tiga generasinya yang terakhir (sekitar 40 tahun) telah menyusut lebih dari 80 persen,” catat Jatna Supriatna, ahli primata sekaligus Regional Vice President and Executive Director Indonesia pada Conservation International.
Bagi sebagian besar masyarakat Minahasa yang beragama Kristen, menyantap daging yaki bukanlah sesuatu yang pantang. Di sisi lain, Cagar Alam Tangkoko dan Cagar Alam Manembo-nembo, dua kawasan konservasi yang merupakan tempat terakhir perlindungan yaki di alam.
Jika ada secercah harapan, itu adalah fakta bahwa populasi yaki di Cagar Alam Tangkoko justru bertambah. ”Dari tiga kelompok yaki yang kami amati selama empat tahun terakhir, tingkat kelahirannya lebih tinggi dibanding tingkat kematian,” ucap Giyarto. Bagaimanapun, dibutuhkan pula bentuk perlindungan secara lebih nyata terhadap spesies ini.—Reynold Sumayku
Photostory: Black Macaques, Red Alert
Majalah NG Indonesia edisi November 2009.
