Wednesday, September 8, 2010

Melongok Tenun Ikat Rote

Sep 30th, 2009 | By rey | Category: Notes

Hal menarik lainnya yang saya cari dalam perjalanan ke Pulau Rote beberapa waktu lalu adalah tenun ikat. Foto-foto ini diambil di Kampung Ndao. Kampung tersebut dinamakan demikian karena sebagian besar penduduknya berasal dari Pulau Ndao, sebuah pulau kecil yang dapat ditempuh dalam waktu tiga jam berperahu dari Rote.

Menurut cerita, setiap perempuan Ndao harus bisa menenun. Kemampuan ini penting dalam kebudayaan mereka. Barangkali sama pentingnya dengan kewajiban bagi kaum lelaki untuk bekerja atau pergi mencari nafkah. Bagaimanapun, sehari-hari, para perempuan Ndao baru menenun di waktu luang, setelah selesai memasak dan mengurus keluarga.

Kemampuan menenun diajarkan turun-temurun dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak, dari anak ke cucunya si nenek, begitu terus. Tidak begitu mengherankan apabila banyak perempuan Ndao yang sudah bisa menenun sejak usia belia. “Saya sudah bisa sejak umur sembilan,” kata Wenty Fattu (30)  siang itu.

Ibu Wenty biasanya menyelesaikan tiga kain tenun dalam sebulan. “Dahulu kami memintal benang sendiri dari pohon kapas. Tapi sekarang kami membeli benang sutra saja, agar praktis. Lagipula di mana mau cari pohon kapas sekarang,” ucapnya.

Setiap satu bantal benang menurut harga pada September lalu ia beli dengan uang 250 ribu rupiah. Itu setidaknya bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat sehelai kain. Atau, katanya, “Satu kemeja pun bisa.” Harga jual sehelai kain tenun jadi antara 300-500 ribu rupiah tergantung motifnya. Namun jika sudah sampai di Jakarta, atau luar negeri, bisa mencapai satu juta lebih.

Berikut beberapa foto dari Kampung Ndao di Pulau Rote:

rote_4574

Menyiapkan benang.

rote_4692

Jalinan benang kapas semula berwarna putih.

rote_4690

Proses pewarnaan. Benang kapas telah menjadi hitam, warna dasar.

rote_4671

Ibu Koten menunjukkan jalinan benang yang sedang dikeringkan dalam proses pewarnaan. Ikatan-ikatan yang berwarna biru dibuat dengan tali rafia, sebagai batas penanda untuk membuat warna lain.

rote_4585

Wenty Fattu sedang mengerjakan tenunannya. Foto yang ini saya buat dengan angle seperti ini dengan alasan yang rada aneh: sering sekali saya melihat foto orang menenun dengan angle kira-kira seperti ini.

rote_4529

Salah satu kain tenun yang sudah selesai.

rote_4733

Kain-kain tenun yang sudah selesai digantung di beranda untuk menarik minat calon pembeli.

Share This Post

6 comments
Leave a comment »

  1. syukurlah bila ketrampilan itu selalu diturunkan dalam keluarga. semoga tidak hilang ditelan kemajuan jaman. kalau 1 bantal benang seharga 250 rb bisa jadi 1 helai kain seharga 300-500 rb, berarti selisihnya 50-250rb ya utk 10 hari kerja. tidak banyak utk suatu kerja yg perlu ketrampilan tinggi spt itu. semoga mereka selalu semangat meneruskannya….

  2. iya, keuntungannya tidak telalu banyak. padahal sekarang sudah banyak kain tenun yang dibuat dengan mesin. mereka sempat bilang khawatir kalau kesulitan bersaing lagi. tapi pada dasarnya kain tenun ini bagian dari budaya ya. selama mereka masih di dalam lingkaran budayanya, mungkin kita bisa berharap bahwa tenun ikat rote terus diwariskan ke generasi berikutnya dan berikutnya lagi.

  3. seni dan budaya ini harus tetap dipertahankan…
    ekspose yg baik utk memperkenalkan seni budaya Indonesia. Sy perhatikan justru pengenalan seni Indonesia banyak oleh orang asing yg lebih jeli mungkin dikarenakan mereka tidak mempunyai seni tersebut.
    Good job!!

  4. numpang mampir liat2 bro,
    baca cerita ini, dan keaslian tenun ikat ini saya jadi ingat produsen kain yg mirip tenun ikat di sentra industri textil di daerah Kudus. hasilnya menurut beberapa teman yg sdh pernah berkunjung di sentra tsb mirip dgn tenun asli, bahkan kain tenun ‘aspal’ tsb malah dipasok ke Bali .
    Saya jadi berpikir kenapa industri tenun ‘aspal’ ini berkembang..apakah mungkin karena ada demand akan tenun asli tetapi tdk bisa dipenuhi oleh industri tenun tradisional yg diproduksi juga secara traditional ..sehingga masuklah tenun ikat aspal itu.
    mudah2an industri tenun ikat traditional bisa terjaga dgn baik.

  5. @Riady: Iya, saya kira juga begitu. Pembuatan secara tradisional makan waktu, dan produksinya pun terbatas.. Pada akhirnya sebagian (besar) permintaan mungkin justru dipenuhi oleh industri yang lebih modern.

  6. menakjubkan bisa memahami dan belajar berbagai hasil budaya indonesia, saya sangat tertarik sekali dgn cerita di atas, semoga saya suatu saat bisa ke rote melihat perempuan Ndao menenun dgn cinta

Leave Comment